IKAN PELAGIS

PENDAHULUAN

Di Indonesia sumberdaya ikan pelagis kecil diduga merupakan salah satu sumberdaya perikanan yang paling melimpah (Merta, dkk, 1998) dan paling banyak ditangkap untuk dijadikan konsumsi masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan bila dibandingan dengan tuna yang sebagia besar produk unggulan ekspor dan hanya sebagian kelompok yang dapat menikmatinya. Ikan pelagis umumnya hidup di daerah neritik dan membentuk schooling juga berfungsi sebagai konsumen antara dalam food chain (antara produsen dengan ikan-ikan besar) sehingga perlu upaya pelestarian.

Sumberdaya ikan pelagis dibagi berdasarkan ukuran, yaitu Ikan Pelagis Besar seperti kelompok Tuna (Thunidae) dan Cakalang (Katsuwonus pelamis), kelompok Marlin (Makaira sp), kelompok Tongkol (Euthynnus spp) dan Tenggiri (Scomberomorus spp), Selar (Selaroides leptolepis) dan Sunglir (Elagastis bipinnulatus), kelompok Kluped seperti Teri (Stolephorus indicus), Japuh (Dussumieria spp), Tembang (Sadinella fimbriata), Lemuru (Sardinella Longiceps) dan Siro (Amblygaster sirm), dan kelompok Skrombroid seperti Kembung (Rastrellinger spp) (aziz et al. 1988).

Potensi  sumberdaya laut perikanan laut Indonesia tahun 1983 adalah 6,6 juta ton/tahun dan melalui beberapa revisi maka pada tahun 1996 Direktoraj Jenderal Perikanan mengevaluasi dugaan potensi sumberdaya ikan laut Indonesia sebesar 6,35 juta ton/tahun. Pada tahun 1997 oleh aziz et al (1998) diadakan evaluasi potensi perikanan adalah 68 juta ton/tahun berdasarkan produksi, potensi dan tingkat pemanfaatan pada wilayah pengeolalaan perikanan (Selat Malaka, Laut Cina Selatan, laut Jawa, Selat Makassar dan Laut Flores, Laut Banda, Laut Seram sampai Teluk Tomini, Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik, Laut Arafura dan Samudera Hindia).

Penyebaran ikan pelagis di Indonesia merata di seluruh perairan, namun ada beberapa yang dijadikan sentra daerah penyebaran seperti Lemuru (Sardinella Longiceps) banyak tertangkap di Selat Bali, Layang (Decapterus spp) di Selat Bali, Makassar, Ambon dan Laut Jawa, Kembung Lelaki (Rastrelinger kanagurta) di Selat Malaka dan Kalimantan, Kembung Perempuan (Rastrelinger neglectus) di Sumatera Barat, Tapanuli dan Kalimantan Barat. Menurut data wilayah pengelolaan FKKPS maka ikan layang banyak tertangkap di Laut Pasifik, teri di Samudera Hindia dan kembung di Selat Malaka.

Ikan pelagis dapat ditangkap dengan berbagai alat penangkap ikan seperti puese seine atau pukat cincin, jaring insang, payang, bagan dan sero.

Berdasarkan data potensi, penyebaran dan alat tangkap tersebut maka ikan pelagis kecil berpotensi di satu pihak sebagai komoditi konsumsi meyarakat umum dan pihak lain sebagai konsumen antara dalam food chain yang perlu dilestarikan. Sekarang, bagaimana penerapannya dengan adanya UU Otonomi Daerah tahun 1999 karena timbul berbagai konflik dalam mengintreprestasikan UU tersebut. Seperti ditangkapnya nelayan-nelayan di daerah lain yang menangkap ikan di wilayah lain dan bukan di daerahnya sendiri. Contohnya nelayan purse seine dari Pekalongan yang menangkap ikan di perairan Masalembo dan Matasiri, yang sebelumnya tidak terjadi konflik begitu, diundangkannya Otonomi daerah maka nelayan-nelayan dari pekalongan tersebut mengalami kesulitan dan terjadi konflik dengan nelayan setempat. Interpretsi UU yang tidak tepat sering kali menimbulkan konflik antara nelayan pendatang dengan nelayan setempat, sehingga perlu adanya sosialisasi tentang peraturan perunangan tersebut. Selain itu diperlukan suatu kebijakan dan strategi pengelolaan agar sumberdaya ikan pelagis tetap lastari dan tetap dapat ditangkap serta dapat dibuat suatu alokasi sumberdaya ikan pelagis antar daerah tersebut sehingga tidak menimbulkan konflik. Langkah awal untuk alokasi adalah mengetahui seberapa besar MSY dan TAC-nya setelah itu baru kebijakan pengelolaannya dijalankan.

POTENSI IKAN PELAGIS

Potensi sumberdaya ikan laut adalah bobot atau jumlah maksimum yang dapat ditangkap dari suatu perairan setiap tahun secara berkesinambungan. Laevastu dab Favourite (1988) menyatakan bahwa ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menduga potensi sumberdaya perikanan, yaitu :

  1. Pendugaan secara langsung, yaitu pandugaan yang didasarkan pada penangkapan ikan secara langsung dengan menggunakan alat tertentu seperti trawl survey, longline dan trap survey, telur dan larva dan young fish survey.
  2. Accoustic survey, yaitu survey yang menggunakan peralatan akustik. Dengan metode ini dapat dilakukan pengamatan terhadap potensi ikan dalam areal yang lebih luas.
  3. Virtual Population Analysis (VPA), didasarkan pada perhitungan pendugaan fishing mortality. Metode ini digunakan bersama dengan cara kelimpahan dari hasil analisa trawl survey atau akuatik survey dan rangkaian CPUE.
  4. Ecosystem simulation and multispecies models. Metode ini dilakukan dengan membuat model yang menirukan situasi ikan yang sebesarnya ketika hidup di alam.
  5. Surplus Production model, metode ini didasarkan pada data produksi tahunan dari penangkapan.

Pada pendugaan densitas ikan pelagis digunakan data yang diperoleh dengan metode akustik. Cara ini dipraktekkan dengan melakukan integrasi terhadap energi gema, yang sebelumnya dikonversikan ke dalam energi listrik, yang dipantulkan oleh sejumlah massa ikan tertentu. Selanjutnya intergrasi tersebut dikonversian ke dalam biomassa ikan. Biomassa ikan persatuan inilah yang selanjutnya disebut densitas. Potensi sumberdaya dihitung dengan menggunakan model Cadima.

Selain itu juga metode analisanya menggunakan Model Surplus Production dari Schaefer, Metode Semi Kuantitatif dengan melakukan interpolasi atau ekstrapolasi dari hasil survei akustik, produktivitas primer dan survei trawl dari suatu perairan tertentu ke perairan lainnya dan Metode Hasil Tangkapan  per Rekruit (Y/R). Metode Y/R ini memerlukan labih banyak data dibandingkan dengan model surplus produksi, yakni memerlukan komposisi umur atau  ukuran dari stok, nilai estimasi mortalitas alami, serta jumlah parameter pertumbuhan. Metode ini sudah digunakan untuk mengestimasi populasi ikan kembung, lemuru dan layang.

Potensi ikan pelagis di perairan Indonesia adalah 3,2 juta ton/tahun dengan tingkat pemanfaatan 46,59 % sehingga peluang untuk pengembangannya masih 43,41% namun pemanfaatannya harus diperhatikan lokasi penangkapannya karena penangkapan ikan pelagis di Indonesia sebagian besartelah memperlihatkan tingkat penguasaan yang berlebih seperti di Laut  Jawa dab Selat Malaka kecuali untuk Laut Arafura dan Laut Sulawesi serta Samudera Pasifik. Hal ini berdasarkan hasil reevaluasi potensi, produksi dan tingkat pemanfaatan ikan pelagis di perairan Indonesia.

PENGELOLAAN PELAGIS

Ikan Pelagis umumnya merupakan filter feeder, yaitu jenis ikan pemakan plankton dengan jalan menyaring plankton yang masuk untuk memilih jenis plankton yang disukainya ditandai oleh adana tapis insang yang banyak dan halus. Lain halnya denga selar. Selar termasuk ikan buas, makanannya ikan-ikan kecil dan krustasea.

Pada siang hari ikan pelagis kecil berada di dasar perairan membentuk gerombolan yang padat dan kompak (shoal), sedangkan pada malam hari naik ke permukaan membentuk gerombolan yang menyebar (scatted). Ikan juga dapat muncul ke permukaan pada siang hari, apabila cuaca mncung disertai hujan gerimis. Adanya kecendrungan bergelombol berdasarkan kelompok ukuran dan berupaya mengikuti makanannya.

Menurut Laevastu dan Hayes (1981), diurnal vertical migration dari ikan yang hidup di laut dibagi dalam lima kelompok, yaitu  :

  1. Species pelagis yang pada berada sedikit di atas thermiklin ; mengadakan migrasi ke lapisan permukaan pada saat matahari terbenam ; tersebar pada layer diantara permukaan dengan thermklin pada waktu malam hari; menyelam dan berada di atas thermiklin bersamaan dengan terbitnya matahari.
  2. Spesies pelagis yang ada pada siang hari berada pada lapisan di bawah thermoklin; mengadakan migrasi dengan menembus lapisan thermoklin ke lapisan permukaan selama matahari terbenam ; tersebar diantara permukaan dengan dasar pada waktu malam hari, dengan jumlah terbanyak wamtu malam hari di atas lapisan thermiklin; menembus lapisan thermoklin menuju ke lapisan yang lebih dalam bila matahari terbit.
  3. Spesies pelagis yang pada siang hari berada pada lapisan di bawah thermoklin ; mengadakan migrasi di bawah lapisan thermoklin selama matahari terbenam ; tersebar diantara thermoklin dengan dasar pada waktu malam hari ; turun ke lapisan yang lebih dalam selama matahari terbit.
  4. Species demersal pada waktu siang hari berada di atas atau pada dasar perairan ; mengadakan migrasi dan tersebar di dalam massa air di bawah (dan kadang-kadang di atas) thermoklin pada saat matahari terbenam ; menuju ke dasar pada saat matahari terbenam ; menuju ke dasar perairan pada saat matahari terbit.
  5. Species yang tersebar di seluruh kolom perairan pada waktu siang hari tetapi akan turun ke dasar selama malah hari.

Berdasarkan hal tersebut maka, kebanyakan ikan pelagis kecil akan timbul ke permukaan sebelum matahari terbenam yang biasanya membentuk shoaling. Setelah matahari terbenam mereka akan tersebar dalam kolom perairan dan akan menyelam ke lapisan yang lebih dalam bila matahari terbit.

Menurut (Hardenberg, 1971 dalam Djamali, 1965) di laut Jawa populasi layang ada tiga macam yaitu layang utara, layang barat dan layang timur. Ruaya layang di perairan Indonesia mempunyai hubungan dengan pergerakan massa air laut, walaupun secara tidak langsung. Selama musim timur berlangung air dengan salinitas tinggi mengalir ke Laut Flores masuk ke laut Jawa dan keluar melalui Selat Gasper, Selat Karimata dan Selat Sunda. Pada tahap permulaan layang kecil berasal dari Laut Flores bermigrasi ke arah barat dan sampai ke pulau Bawean. Pada musim timur pada bulan Juni sampai September banyak terdapat layang di Laut Jawa (disebut populasi layang timur). Menurut Burhanuddin dan Djamali (1978) layang timur terdiri dari dua populasi. Populasi berasal dari Selat Makassar dan populasi dari Laut Flores.

Secara keseluruhan, ikan layang dominan tertangkap di Samudera Hindia, teri di Sumatera Barat dan di selatan Jawa adalah Lemuru.

PEMBAGIAN BERSAMA SUMBERDAYA IKAN PELAGIS KECIL

Sumberdaya laut harus disadari rentan terhadap intensitas penangkapan karena itu upaya penangkapan harus dikelola dan dikontrol agar sumberdaya hayati laut tidak terjadi kolaps. Salah satunya adalah dengan pembagian bersama (shared stock) yang diatur dan dikontrol.

Alokasi Shared stock dapat ditentukan sebagai berikut : (1) secara langsung seperti menentukan TAC ; (2) sejumlah peraturan yang ekuivalen yang menghasilkan resut yang sama seperti pembatasan upaya penangkapan (effort) (3) limited access sumberdaya laut agar overfinishing dapat dihindari.

Bila dilihat dari stok sumberdaya ikan yang berada di suatu wilayah perairan tertentu atau yang keberadaan stok sumberdaya ikan pada musim-musim tertentu untuk jenis-jenis ikan yang bermigrasi, maka untuk shared stocknya harus memenuhi beberapa kriteria yang relevan untuk dipertimbangkan adalah

a. Kriteria Historis

Shared total hasil tangkapan dari sumberdaya ikan harus proporsional dengan ikan yang didaratkan dari stok nasional dari kurun waktu tertentu dan mempertimbangkan sejarah pengelolaan dari suatu wilayah daerah otonom serta memberikan peluang ekonomi yang lebih besar kepada suatu daerah otonom yang telah mengorbankan wilayahnya untuk kepentingan pelestarian stok sumberdaya ikan

b. Kriteria Kepentingan Ekonomi

Alokasi shares stock ditentukan berdasarkan fungsi dari ukuran armada, invesment yang sedang berjalan dan infra sturktur yang sudah dibangun. Proses alokasi juga mempertimbangkan pengaruh sosial ekonomi, terutama yang dapat mempengaruhi masyarakat pekerja di lingkungan masyarakat pesisir dan terutama bila terdapat ketergantungan yang nyata darii sumberdaya ikan untuk memenuhi kepentingan nutrisi masyarakat dan untuk kepentingan kahidupannya. Juga mempertimbangkan nilai investasi yang dipergunakan untuk kegiatan investasi dan proteksi untuk kelestarian stok sumberdaya ikan.

c. Kriteria Bio-Oseanografi dan Jangka Panjang

Memberikan shared stok yang lebih besar kepada wilayah daerah otonom yang memiliki area pemijahan. Demikian juga wilayah perairan yang merupakan daerah atau area untuk mencari makan, memiliki shared stok yang lebih besar. Perlu dipertimbangkan juga untuk daerah-daerah yang memiliki produktivitas primer dan sekunder yang tinggi, juga dapat dijadikan justifikasi untuk mendapatkan shared stock yang lebih tinggi. Daerah penangkapan yang cocok dan juga merupakan daerah penangkapan untuk jenis-jenis ikan ekonomis penting yang mempunyai ukuran ikan yang marketable, seharusnya mendapatkan shared stock yang lebih tinggi.

STRATEGI PENGELOLAAN KAITANNYA DENGAN UU OTONOMI DAERAH

Manajemen (pengeolaan) sumberdaya (ikan pelagis) adalah suatu pengambilan keputusan secara sadar tentang pengalokasian sumberdaya secara terus menerus (berkelanjutan) dalam ruang dan waktu untuk dimanfaatkan guna mencapai tujuan masyarakat yang telah ditetapkan, dalam kerangka IPTEK, lembaga-lembaga politik dan sosial, serta tata cara pengaturan dan administrasi yang dimiliki oleh masyarakat tersebut.

Berdasarkan pengertian di atas yaitu secara sadar berarti keputusan yang ada sudah dipertimbangkan aksi konsekuensi kebijakan berdasarkan the best scientific data available, pengalokasian sumberdaya berarti menentukan peruntukan sumberdaya yang dieksploitasi sehingga dengan optimalisasi bukan maksimalisasi sumberdaya dapat meningkatkan value added, secara berkelanjutan atau sustainable berarti optimalisasi sesuai dengan TAC (Total Alloawable Catch) dan carrying capacitynya, efisiensi yakni input yang dikeluarkan lebih kecil dari outputnya baik dari kualitas maupun kuantitas dengan teknologi yang ramah lingkungan, dan tidak untuk segelintir orang saja sumberdaya tersebut dinikmati.

Dalam hal pengambilan keputusan harus mempertimbangkan pengelolaan sumberdaya, IPTEK saat ini dan yang akan datang serta perilaku masyarakat yang ada. Berdasarkan uraian di atas jelas terlihat bahwa hukum dan kelembagaan memegang peranan penting dalam pengelolaan dan pengaturan  serta pengembangan pemanfaatan sumberdaya secara terpadu dan berkelanjutan untuk mewujudkan code of conduct for responsible fisheries.

a. Sistem Hukum

Hukum pengelolaan sumberdaya perikanan tangkap meliputi semua peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan secara resmi oleh lembaga-lembaga pemerintah. Dari sudut hirarkhinya, peraturan perundang-undangan memiliki tingkat lebih tinggi yang akan ditindaklanjuti dengan peraturan pelaksanaan. Peraturan perundangan terlebih dahulu dilihat struktur hukumnya kemudian dikaji dalam hal perencanaan, penataan, pelaksanaan atau pengawasan dan evaluasi, karena proses kebijakan merupakan produk antara internal hukum dengan kelembagaan. Setelah itu mengacu pada pengelolaan terpadu melalui pendekatan : Resource based management yaitu pngelolaan yang didasarkan pada kemampuan sumberdaya alam, sumber daya manusia, dan sumberdaya budaya, cocok untuk perairan lepas pantai dimana sumberdaya melimpah namun diperlukan teknologi yang tinggi untuk mengelolanya. Community Based Management yaitu pengeolaan yang didasarkan pada kemampuan masyarakat, cocok untuk perairan dekat pantai untuk memberdayakan masyarakat dan marketing based management yaitu pengeolaan yang didasarkan kemampua dalam memanfaatan basis-basis kompetisi seperti sumberdaya, peraturan perundang-undangan dan kelembagaan, memanfaatkan peluang pasar dan mampu bersaing, cocok diterapkan disemua pengelolaan perairan karena berperan dalam strategi pemasaran, karena itu perlu didukung oleh peraturan perundang-udangan dan kemampuan kelembagaan yang memadai.

Berdasarkan uraian di atas maka untuk mengembangkan sun\mberdaya ikan pelagis langkah awal yang sebaiknya dilakukan adalah dengan menentukan berapa besarnya stok sumberdaya ikan (stock assesment), berapa banyak yang boleh ditangkap atau dimanfaatkan (JTB atau TAC/ Total Allowable Catch) dan pengalokasian stock sumberdaya ikan (shared Stock) tersebut bagi wilayah daerah otonom.

Dalam mengestimasi stock assessment dapat menggunakan metode-metode yang telah ada yaitu metode surplus production da metode akustik seperti yang  dilakukan oleh FKPPS (Forum Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Ikan) Sehingga bisa diperoleh potensi ikan pelagis di Indonesia setelah itu dapat ditetapkan JTBnya sesuai SK Mentan No. 995/Kpts/IK.210/9/1999, adalah besarya atau banyaknya sumberdaya ikan yang boleh ditangkap dengan memperhatikan pengamanan konservasinya di wilayah perikanan Indonesia. Penetapan jumlah JTB sebesar 80% dari potensi lestari atau MSY sebagai upaya waspada karena sebenarnta MSY tidak dapat diprediksi dengan nilai tertentu hanya sebagai suatu perkiraan saja, bisa jadi suatu potensi lestari tersebut meleset menjadi 1/3-nya lebih besar atau lebih kecil.

Beberapa kalangan menilai bahwa penetapan JTB adlah sebagai sudah tidak relevan lagi tetapi untuk permsalahan di Indonesia sebagai negara berkembang, penetapan JTB masih relevan mengingat bahwa kita belum mengoptimalkan dalam mengelola sumbrdaya yang ada dan kita tidak mempunyai data yang dapat dipertanggungjawabkan, sedangkan negara lain dengan mudah menangkap dan mengeruk sumberdaya Indonesia.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

TEKNIK BUDIDAYA IKAN BANDENG

Budidaya ikan bandeng tidak hanya berkembang di air payau, namun saat ini juga berkembang di air tawar maupun laut dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Budidaya ikan bandeng telah lama dikenal oleh petani dan saat ini telah berkembang di hampir seluruh wilayah perairan Indonesia, dengan memanfaatkan perairan payau dan pasang surut. Budidaya ikan bandeng tidak hanya berkembang di air payau, namun saat ini juga berkembang di air tawar maupun laut dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA)

Teknologi budi daya ikan ini juga telah mengalami perkembangan yang begitu pesat, mulai dari pemeliharaan tradisional yang hanya mengandalkan pasok benih dari alam pada saat pasang sampai ke teknologi intensif yang membutuhkan penyediaan benih, pengelolaan air, dan pakan secara terencana.

PRA BUDIDAYA

  1. Pembentukan management pengelola, yakni meliputi tugas dan hak pengelola budidaya selama berlangsungnya kegiatan.
  2. Penentuan Lokasi Budidaya dengan memperhatikan aspek dampak lingkungan dari kegiatan budidaya ini, Kontruksi tambak dalam tambak pembesaran kontruksi tambak yang digunakan terdapat 2 tipe yaitu tambak tanah dan tambak semi beton. Terdapat 5 tambak yang berkontruksi dinding dan berdasar tanah dan terdapat 6 tambak berdinding beton tetapi menggunakan dasar tanah. Untuk kontruksi tanah digunakan dalam pembesaran bandeng ini dikarenakan akan mempermudah menumbuhkan pakan alami selain itu bandeng memiliki tingkah laku mencari makanan diantara lumpur serta ikan bandeng lebih suka mencari makanan di dasar maupun di dinding tambak sehingga tambak yang digunakan menggunakan kontruksi tanah.

    Pada tanah di dasar tambak dibuat saluran dasar yang disebut kamalir dan sumur tambak atau kubangan tambak yang dibuat di dasar tambak untuk berkumpulnya ikan pada saat panen. Kamalir dan kubangan berguna untuk memudahkan penangkapan ikan bandeng dipanen. Untuk dasar tambak, tanah di dasar tambak harus miring atau tumpah kearah pembuangan air.

    Untuk pembesaran bandeng lebih sering menggunakan tambak tanah ini dikarenakan untuk mendukung proses pertumbuhan pakan alami. Selain itu bandeng lebih suka pada wilayah yang berlumpur dikarenakan bandeng memiliki sifat ikan yang mencari makanannya di dasar lumpur ataupun dasar tanah. Untuk penyediaan air ke tambak-tambak disediakan kanal atau serupa dengan sungai kecil yang memiliki kelebaran 2 meter, dengan menggunakan kanal maka sumber air payau yang berasal dari sungai akan masuk melaui kanal dan dari kanal akan menuju ke pintu-pintu masuk tambak. Dengan demikian, masuknya air ke tambak ini mengandalkan air pasang dari laut yang melewati sungai.

  3. Perhitungan Modal awal kegiatan budidaya, yakni Biaya investasi biaya tetap yang harus dikeluarkan oleh petambak untuk memulai usahanya. Biaya investasi meliputi biaya perijinan, sewa tambak dan pengolahan tambak serta pembelian peralatan. Biaya perijinan bernilai nol sebab biaya itu telah dibayar pemilik pada saat membuat tambak. Total biaya investasi yang diperlukan untuk tambak seluas 2 ha sekitar Rp 8 juta dengan biaya terbesar pelengkapan tambak. Biaya perlengkapan tambak adalah biaya untuk membeli pompa air dan membuat rumah pandega. Rumah pandega diperlukan sebab tambak berada di lokasi yang relatif jauh dari pemukiman sehingga diperlukan tempat untuk penunggu tambak. Tambak disewa selama 4 tahun, tetapi pembayaran sewa dilakukan setiap tahun. Sewa tambak saat penelitian adalah Rp 1.250.000 per ha per tahun. Pengolahan tambak memerlukan biaya yang besar terutama untuk biaya tenaga kerja. Peralatan antara lain adalah jaring, ember dan serok.

BUDIDAYA

Pada saat masa budidaya kegiatan yang dilakukan rutin adalah monitoring, Monitoring kualitas air memiliki peranan penting dalam proses kegiatan budidaya. Pada saat penebaran benih perlu dilakukan perendaman benih ke dalam tambak agar kondisi suhu air dalam plastik dan tambak tidak terjadi perbedaan suhu yang menyebabkan kematian pada benih bandeng. pengontrolan kualitas air dilakukan 2 kali dalam 1 minggu dengan tujuan untuk mengetahui kualitas air di tambak sehingga dapat melakukan tindakan-tindakan yang diperlukan apabila terjadi penurunan kualitas air. selama kegiatan pembesaran bandeng tidak mengalami penurunan kualitas air, komdisi perairan yang baik dapat dikontrol apabila kondisi tanah baik dan selain itu dengan jumlah padat tebar yang sedikit maka dapat menjaga kualitas air karena feses dari sisa pencernaan sedikit sehingga dapat terurai secara maksimal di dasar tambak. Alat yang digunakan untuk mengukur kualitas air diantaranya adalah thermometer untuk mengukur suhu air, refraktometer digunakan untuk mengukur salinitas air tambak, DO meter untuk mengukur kandungan oksigen terlarut dalam air tambak dan pH meter untuk mengukur kesadahan air tambak

Kisaran kualitas air pada tambak tradisional pembesaran bandeng di adalah sebagai berikut:
• pH tanah 4,8 – 6,8
• salinitas 5 – 11 ppt
• DO 3,3 – 4,6 ml/L
• Suhu 25 – 300C
• pH air 7,5 – 8,8
• NH3 (amonia) 0,05 – 0,22 ppm
• H2S (asam belerang) 0,024 – 0,05 ppm
• Fe 0,04 – 0,63 ppm

Warna air pada tambak pembesaran bandeng secara tradisional di yaitu berwarna coklat kehijauan ini menunjukkan adanya kelekap dan fitoplakton yang tumbuh dalam tambak. Menurut Kordi dan Andi (2007), kualitas yang optimal untuk budidaya bandeng yaitu dengan kisaran pH 7 – 9, suhu 23 – 320, DO 4 – 7 ppm, dan salinitas 0 – 35 ppt. Untuk tumbuh optimal, biota budidaya membutuhkan lingkungan hidup yang optimal pula. Kualitas air dan pengaruhnya terhadap biota budidaya sangat penting diketahui oleh pembudidaya. Kualitas air dapat diketahui dari beberapa parameternya. Sebagai parameter untuk budidaya biota air adalah karakter fisik dan kimia.

PASCA BUDIDAYA
Panen bandeng pada tambak tradisional dilakukan pada bandeng berumur 6 – 7 bulan pada umur sekian bandeng telah cukup pada ukuran konsumsi. Pada ukuran panen dalam setiap kilogramnya berjumlah 4 – 5 ekor bandeng. Pada kegiatan pemanenan dilakukan pada pagi hari dilakukan untuk menghindari panas teriknya matahari selain itu dilakukan pada saat kondisi air surut sehingga mempermudah dalam proses pengurangan air dalam tambak.

Menurut Cahyono (2007), ikan bandeng dengan berat awal atau berat saat penebaran benih pertama dengan berat 40 gram dengan lama pemeliharaan 4 – 6 bulan akan mengalami peningkatan berat tubuh sebesar 250 gram. Sedangkan pada metode tradisional dibutuhkan waktu antara 6 – 7 bulan untuk mencapai berat tubuh 250 gram. Hal ini dikarenakan dalam pembesarannya, pada metode tradisional membutuhkan waktu yang cukup lama. Selain itu, dalam kegiatan budidaya secara tradisional tidak mengunakan pakan tambahan melainkan hanya mengandalkan pakan alami yang tumbuh dalam tambak.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

APA ITU CURRENT METER???

Current Meter (Alat Ukur Arah dan Kecepatan Arus Laut)

Seluruh current-meter mekanik mengukur kecepatan dengan melakukan pengubahan gerakan linear menjadi menjadi angular.

Sebuah current-meter yang ideal harus memiliki respon yang cepat dan konsisten dengan setiap perubahan yang terjadi pada kecepatan air, dan harus secara akurat dan terpercaya sesuai dengan komponen velositas. Juga harus tahan lama, mudah dilakukan pemeliharaan, dan simpel digunakan dengan kondisi lingkungan yang berbeda-beda. Indikator kinerja tergantung pada inertia dari rotor, gerakan air, dan gesekan dalam bearing.

Secara umum current meter yang biasa dipergunakan memiliki dua tipe : dengan “verctical axis meter” dan “axis meter horizontal”. Dalam kedua perbedaan tersebut rotasi dan rotor dari propeller dipergunakan untuk menentukan kecepatan arus laut sesuai dengan pengaturan pada current-meter. Sebelum current-meter ditempatkan, hubungan antara rotasi dan kecepatan dengan mempergunakan “towing tank”.

Tiga type dari alat ukur kecepatan dengan mempergunakan hukum Faraday. Dimana konduktor (air) menggerakkan daerah medan magnet (diubah dengan kumparan berbeda kutub) yang menghasilkan voltase dengan adanya arus air. Jadi secara umum ada tiga jenis yang sering dipergunakan saat ini, prinsip electromagnetik dengan mengukur kecepatan mempergunakan hukum Faraday dengan menyatakan bahwa air mengakibatkan perubahan medan magnetik yang ada dalam bidang yang telah diatur sehingga menghasilkan tegangan yang berbeda secara linear sebanding dengan kecepatan arus.

Elektrode dalam penelitian dapat mendeteksi tegangan yang dihasilkan oleh air. Karena current meter tidak bergerak bagian mereka tidak terganggu banyak sehingga tidak membutuhkan pemeliharaan yang terkait dengan permasalahan mekanik.

Pada tahun 1998 sudah ada beberapa produk current meter yg dipergunakan :

Tabel : Current meter yang sering dipergunakan. (Sumber: Manual of Standard Operating Procedures for Hydrometric Surveys in British Columbia, November 1998)

Vertical Axis Current Meters Horizontal Axis Current Meters
Price 622AA Valpot BFN 002 (Braystoke)
Price 62AAA Magnetic OTT 5(Arkansas), 2 impellers (replaced by C31)
Price 622AA Photo-Fibre Optic(Swolffer retrolit #2200) OTT, C31, 3 impellers
Price Winter Model AA OSS, B1, 2 impellers (identical to C31)
Price Pygmy OTT, C1, 3 impellers (replaced by C2 & OSS, PC1)
Price Pygmy Photo-Fibre-Optic (Swoffer retroit #2200) OSS, PC1, 2 impellers (identical to C2)
Swoffer 2100, impeller

Menurut http://www.eng.fiu pengukuran kecepatan arus air disebut dengan Water current meter yang secara prinsip terbagi dalam tiga sistem, yaitu :

  1. Sistem Pencacah Putaran, yaitu current meter yang mengkonversi kecepatan sudut dari propeller atau baling-baling kedalam kecepatan linear. Biasanya jenis ini mempunyai kisaran pengukuran antara 0,03 sampai 10 m/s
  2. Sistem Elektromagnetik, pada sistem ini air dianggap sebagai konduktor yang mengalir melalui medan mamgnentik. Perubahan pada tegangan diterjemahkan kedalam kecepatan.
  3. Sistem Akustik, pada sistem ini digunakan prinsip Dopler pada transduser, juga biasanya berperan sekaligus sebagai receiver, yang memancarkan pulsa-pulsa pendek pada frekuensi tertentu. Pulsa-pulas direfleksikan ataupun disebarkan oleh partikel-partikel dalam air dan terjadi pergeseran frekuensi dari yang diterima kembali oleh receiver, dimana hal tersebut dapat diukur sebagai kecepatan arus air

Salah satu jenis current meter yang dapat dibuat adalah pengukuran arus dengan arus velositas, dengan sistem kerja menghasilkan sinyal dari masing-masing putaran propeller yang terbuat dari bahan medan magnetik. (www.seba.de)

Persamaan dari arus velositas adalah :

V = k.n + ∆

dimana,

V = Aliran velositas (m/s)

k = pitch hidraulic dari propeller (m)

n = revolusi propeller setiap detik

∆ = Karakteristik dari current meter *)

*) dapat diperkirakan dengan melakukan pengujian secara thowing channel

Current meter dapat pula dibagi kedalam dua kategori berdasarkan metode pengukurannya. Kedua jenis current meter tersebut menurut adalah :

  1. Current meter dengan pengukuran non-otomatik, yaitu current meter dengan cara pengukuran atau perekaman data kecepatan arus yang harus dilakukan langsung oleh seseorang untuk membacanya, biasanya alat ini ditempatkan pada suatu struktur tertentu.
  2. Current meter dengan pengukuran otomatik, yaitu current meter yang merekam data kecepatan arus tanpa selalu harus langsung diperiksa oleh pengguna, Biasanya tipe ini memiliki sarana penyimpanan data yang cukup untuk jangka waktu pengukuran tertentu

Karena banyaknya pengelompokan current meter, maka pada topik kali ini akan banyak membahas tentang jenis current meter “verctical axis meter” dan “axis meter horizontal” yang umum dikembangkan oleh British Columbia

1. Vertical axis meter

Tiga model dari “Vertical axis meter” adalah the Price 622AA meter, the WSC winter meter, dan the Pygmy meter.

1.1 The Price 622AA meter

Adalah yang peling umum dipergunakan dengan jenis tiang vertikal dan sering dipergunakan sebagai pengukur standar karena hasil keluarannya. Bersifat ekstensif dengan berbagai manfaat untuk penelitian/percobaan dan juga cocok untuk berbagai kondisi lapangan .

Secara umum tidak menampilkan sinyal yang cocok dengan perhitungan dengan konsep perhitungan pulsa elektrik pada daerah yang rendah kecepatan arusnya. Metode yang paling sesuai dipergunakan adalah menghitung perputaran rotor atau sistem elektrik yang mengolah sinyal audio. Current meter sini secara inherent    sangat sensitif terhadap fluktuasi turbulensi lateral karena arah yang kurang stabil, sangat mungkin untuk menyebabkan galat pada saat pengukuran kecepatan sehingga berorientasi dalam pengukuran arah arus.

Gambar 1. The Price 622AA meter

1.2 Modified Price 622AA Meter

Model standard Price 622AA Meter dimoifikasi dengan dua cara mempergunakan retro-fit kit untuk mengatasi keterbatasan pengukuran kecepatan.

1. Pengalih magnetik yang terletak disebelah rotor menghasilkan sinyal yang bersih untuk memicu pencacah.

2. Photo-Fiber-Optic sebagai penghubung antara indikator digital dan pengalih magnetik, sehingga pencacah dapat membaca kecepatan secara langsung (dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi).

Gambar2. Price 622AA meter with retro-fit kit dengan pengalih magnetik

1.3 Pygmy Meterriv

Memiliki bentuk yang sangat kecil dengan perbandingan ukuran dua perlima dari Price 622AA meter, sehingga diorientasikan untuk penggunaan pada kedalaman rendah. Namun demikian Current meter ini dianjurkan untuk mengukur kecepatan diatas 0.2 m/s karena untuk menyesuaikan dengan tingkat tekanan dalam menggerakkan rotor.

Gambar 3. Fiber optik diterapkan pada Price 622AA.

1.4 WSC Winter meter

Sangat baik dipergunakan dalam musim dingin karena current meter karena dengan mudah melalui lubang yang dibor di es, dengan melakukan modifikasi pada roda bagian belakan penangkap arus. Dipergunakan dengan melekatkan pada sebuah tongkat yang telah ditetapkan, dimana sebelum pengukuran harus disesuaikan suhu supaya tidak berada dibawah 0 derjat celcius dan setelah pengukuran haruslah dilakukan pembersihan alat untuk menghindari menggumpalnya es pada bearing current meter.

Gambar 4. Price 62AA winter (ice) meter.

2. Horizontal Axis Current Meters

Sangat baik dipergunakan pada daerah yang memiliki turbulens yang tinggi dengan kemampuan mengukur arus tajam baik dengan posisi horizontal maupun vertikal. Dilengkapi dengan rotor yang memiliki keseimbangan saat menghadapi pergerakan linear.

Semua model menggunakan magnetis permukaan beralih untuk menghasilkan hitungan rotasi dalam bentuk pulsa, sehingga dapat menghindari terjadinya gesekan pada komponen yang berdekatan.

2.1 Braystoke BFN 002 Meter

Miniatur ini sekarang arus meter diberikan dalam bentuk kit, termasuk aksesoris yang kuat
1,5-2 m. Current meter Braystoke yang saat ini, diproduksi oleh Valeport perkembangan Ltd Inggris, adalah dirancang untuk ukuran kecepatan arus dalam air tawar atau air laut, dan tidak dipengaruhi oleh kualitas air. Dalam penerpannya alat ini  belum ditentukan batas-batas galat dari arus sampai yang benar-baling mengukur kecepatan nilai, sehingga masih sangat perlu untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.

2.2 OTT C2 and OSS PC1 Meters

OTT C2 yang identik dengan OSS Pc1; sebelumnya diproduksi di Jerman dan terakhir di Australia. Model ini dirancang untuk mengukur kecepatan air kecil di watercourses, tabung percobaan, pipa kecil, dan laboratorium model sungai. Kedua model memerlukan minyak khusus untuk operasi karena berpengaruh pada penilaian dari kalibrasi.

2.3 Universal OTT C31 and OSS B1 Meters

OTT C31 yang identik dengan OSS B1; sebelumnya adalah produksi Jerman dan terakhir di Australia. Meter ini sekarang digunakan untuk menentukan kecepatan aliran air buka di saluran dan laut, serta tekanan dalam pipa. Meter ini dapat digunakan di bawah kondisi ekstrim, juga dapat dipergunakan dalam pengukuran yang terintegrasi misalnya dengan dilengkapi pipa yang memiliki ukuran. Propellers tersedia dari dua produsen untuk C31 dan OTT  OSS B1, bersama-sama dengan kecepatan dan berbagai komponen untuk setiap efek putaran.  Dengan baling-baling yang tersedia dalam ukuran kecil, komponen dari current meter OTT dan OSS dapat saling bertukar.

Pemeliharaan Current Meter

Untuk memelihara kondisi current meter yang sangat wajib dilakukan adalah pembersihan alat, sehingga sangat penting adalah peran operator dalam mengatasinya. Karena memang hanya dibutuhkan waktu sedikit untuk membersihkan, tetapi sangat  substansial untuk menghindari masuknya partikel-partikel seperti pasir dan juga korosi yang dapat mengganggu kinerja current meter. Dalam setiap mengakhiri suatu penelitian, sebaiknya segera dilakukan juga pengamatan alat untuk memastikan alat tersebut masih dapat dipergunakan dengan baik.

Secara khusus pada beberapa current meter type “Horizontal Axis” baling-baling harus dilepas dari meteran pengukur dan juga minyak yang menempel harus dihilangkan. Berring harus dibersihkan mempergunakan anti korosi atau dapat dengan mempergunakan bensin, dan harus memiliki lapisan   pelindung yang dilepas sebelum dipergunakan. Sebelum current meter dipergunakan, batangan penyangga harus dilapisi dengan minyak pelumas untuk mempermudah gerakan current meter saat diturunkan.

SUMBER

Richards. P.R. 1998  Manual of Standard Operating Procedures for Hydrometric Surveys in British Columbia Resources Inventory Committee. BC-Canada

http://www.seba.de/product/water current meter.html

www.eng.fiu

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Posted in Uncategorized | 1 Comment